Faithful. Energetic. Nineteen. Newbie. Young

Konsep Pemasaran

Nama : Fennylia Pratiwi
NPM : 20100730081
Mata Kuliah : Manajemen Pemasaran Bank Syari’ah – A

KONSEP PEMASARAN

1. Produksi

Pemasaran sama dengan Produksi. Dalam konsep ini produsen melakukan produksi massal karena bermanfaat untuk menekan biaya produksi serta dapat mengurangi biaya overhead (dalam pengiriman, pembelian negosiasi, dokumen, dll) . Contohnya produksi massal jam tangan (Arloji). Pada awalnya jam tangan diproduksi terbatas dan hanya dapat dimiliki oleh kaum tertentu. Seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap jam tangan maka produksi massal jam tangan dilakukan oleh salah satu merk jam tangan, Quartz. Dengan diadakannya produksi massal jam tangan maka harga jam tangan akan murah dan relative terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Jam tangan merk Quartz akan berhasil melakukan penjualan apabila tidak memiliki saingan atau saingan sedikit serta konsumen yang kurang memperhatikan kualitas. Apabila merk Quartz tidak melakukan inovasi dalam memproduksi jam tangan, maka ia dapat kehilangan konsumen yang beralih ke merk lain yang memiliki hasil produksi jam tangan lebih inovatif.

2. Produk

Pemasaran sama dengan Produk. Dalam konsep ini produsen akan mempertahankan kualitas dan mutu hasil produksi. Karena target pasar adalah konsumen yang memilih barang karena mutu atau kualitas yang baik. Contoh yang saya berikan dalam konsep ini adalah penjualan mobil Lexus IS 350C F-Sport Edition . Mobil Sport ini hanya dijual 175 unit. Mobil Sport ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas canggih diantaranya camera yang terletak pada spion mobil , Navigasi , Radio satelit, Bilstein shocks, a special rear sway bar and lowering springs serta berbagai fitur canggih lainnya. Oleh sebab itulah mobil ini dijual terbatas hanya di jual kepada kalangan konsumen tertentu sebab tidak semua konsumen memiliki standar kualitas yang sama dalam penilaian sebuah mobil

2. Promosi

Pemasaran sama dengan Promosi. Dalam konsep ini produsen akan membuat suatu media untuk memperkenalkan hasil produksi mereka ke masyarakat luas dengan tujuan produsen dapat mendorong tingkat kenaikan penjualan. Konsumen pasti akan membeli suatu barang apabila vendor atau produsen barang tersebut melakukan suatu usaha promosi dengan baik dan kreatif, dapat melalui iklan, brosur, pamflet atau bahkan melalui cara mulut ke mulut dari konsumen yang telah menggunakan produk tersebut. Gambar di atas adalah satu contoh promosi dari produsen ban kendaraan , yaitu GOODYEAR, vendor besar ini melalui iklan diatas berupa jalan yang di penuhi oleh kelereng berusaha meyakinkan konsumen apabila menggunakan ban kendaraan dari vendor besar ini anda dan kendaraan anda akan tetap aman meski dijalan yang buruk sekalipun.

Tugas SOBS : Statistik Perbankan Syariah

Tugas Sistem Operasional Bank Syariah

Dosen Pengampu  : Gita Danupranata,S.E, M.M

Nama                          : Fennylia Pratiwi

NPM                            : 20100730081

Prodi                          : Ekonomi dan Perbankan Islam

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

MUDHARABAH

Mudharabah yang sering dikenal dengan istilah profit and loss sharing (PLS) adalah model kerja sama ini direkomendasikan dalam keuangan perbankan Islam karena bebas dari sistem riba.

  •  Implementasi Mudharabah dalam Perbankan Syariah

Mudharabah biasanya diterapkan pada produk-produk pembiayaan dan pendanaan. Pada sisi penghimpunan dana mudharabah diterapkan pada :

a.        tabungan berjangka, tabungan yang dimaksudkan untuk tujuan khusus, seperti tabungan haji, tabungan kurban, deposito biasa;

b.        deposito spesial (special investment), dimana dana yang dititipkan nasabah khusus untuk bisnis tertentu, misalnya mudharabah saja atau ijarah saja.

Adapun pada sisi pembiayaan, mudharabah  diterapkan untuk :

a.         pembiayaan modal kerja, seperti pembiayaan modal kerja perdagangan dan jasa;

b.         investasi khusus, disebut juga dengan mudharabah muqayyadah, dimana sumber dana khusus dengan penyaluran yang khusus dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh shahib al-mal (bank).[1]

 

  •   Manfaat dan Resiko Mudharabah

Dalam mudharabah di samping terdapat keuntungan dari sistem bagi hasil yang diterapkan, tapi juga terdapat resiko yang harus ditanggung. Jika usaha yang dijalankan mengalami kerugian, maka kerugian tersebut ditanggung oleh shahib al-mal (bank) selama kerugian itu bukan disebabkan oleh kelalaian dari pihak pengelola usaha (nasabah). Namun, jika usaha yang dijalankan tersebut mengalami kerugian disebabkan oleh kelalaian dari pihak pengelola usaha, maka kerugian tersebut harus ditanggung oleh pihak pengelola, bukan pihak pemberi modal (bank).

Adapun manfaat yang diperoleh dari sistem mudharabah ini antara lain :

a.          Bank akan menikmati peningkatan bagi hasil pada saat keuntungan usaha nasabah meningkat;

b.          Bank tidak berkewajiban membayar bagi hasil kepada nasabah pendanaan secara tetap, tetapi disesuaikan dengan pendapat/hasil usaha bank sehingga bank tidak akan pernah mengalami negative spread.

c.           Pengembalian pokok pembiayaan disesuaikan dengan cash flow/arus kas usaha nasabah sehingga tidak memberatkan nasabah.

d.          Bank akan lebih selektif dan hati-hati (prudent) mencari usaha yang benar-benar halal, aman, dan menguntungkan karena keuntungan yang konkret dan benar-benar terjadi itulah yang akan dibagikan.

e.          Prinsip bagi hasil dalam mudharabah  berbeda dengan prinsip bunga  tetap dimana bank akan menagih nasabah satu jumlah bunga tetap berapapun keuntungan yang dihasilkan nasabah, sekalipun merugi dan terjadi krisis ekonomi.

Sedangkan resiko dalam mudharabah, terutama pada penerapannya dalam pembiayaan, relative tinggi, antara lain :

a.      side streaming, nasabah menggunakan dana yang diberikan bank bukan seperti yang disebut dalam kontrak;

b.      lalai dan kesalahan yang disengaja;

c.       penyembunyian keuntungan oleh nasabah bila nasabahnya tidak jujur.[2]

Dengan demikian, esensi dari kontrak mudharabah adalah kerja sama untuk mencapai profit (keuntungan) berdasarkan akumulasi dasar dari pekerjaan dan modal, dimana keuntungan ditentukan melalui kedua komponen ini. Resiko juga menentukan profit dalam mudharabah. Pihak investor menanggung resiko kerugian dari modal yang telah diberikan, sedangkan pihak mudharib menanggung resiko tidak mendapatkan keuntungan hasil pekerjaan dan usaha yang telah dijalankannya.[3]

Di Indonesia sendiri , menurut BI mencatat pembiayaan dengan akad murabahah mencapai 55 persen dari total pembiayaan. Sementara pembiayaan dengan akad mudharabah/musyarakah yang berbasis bagi hasil mencapai 38 persen. Dibandingkan dengan 10 tahun lalu, pembiayaan murabahah telah berkurang hingga 30 persen. “Di saat awal bank syariah tumbuh, murabahah masih mendominasi hingga 80 persen dari total pembiayaan, “ ujar Direktur Perbankan Syariah Bank Indonesia (BI), Mulya Effendi Siregar. BI akan mengarahkan bank syariah untuk terus memperbanyak pembiayaan berbasis bagi hasil. (Republika, 23 Januari 2012)

Dari data Statistik Perbankan Syariah Maret 2012 Bank Sentral Indonesia, akad Mudharabah dan musyarakah mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya .

Download Data Statistik Perbankan Syariah (Format Pdf)  : SPSMar2012BI

Statistik Perbankan Syariah – Maret 2012 – Bank Sentral Republik Indonesia.

Pada Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah Tabungan iB , akad Mudharabah mengalami kenaikan dari tahun 2006 hingga maret 2012 : 6,098 ; 8,809 ; 11,513 ; 14,937 ; 19,570 ; 19,776 ; 20,224 ,20,857 ; 21,480 ; 21,916 ; 22,72823,589 ; 23,687  ; 24,552 ; 27,208 ; 27,193 ; 27,642 ; 29,054 [ Miliar Rupiah (in Billion IDR) ]

Komposisi Pembiayaan Yang Diberikan Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah pada Akad Mudharabah  juga ikut meningkat hingga Maret 2012 dengan data sebagai berikut :

4,062 ; 5,578 ; 6,205 ; 6,597  ; 8,631  ; 8,767 ; 8,843  ; 9,077 ; 9,549  ; 9,766 ; 9,989  ; 10,020 ; 10,150  ; 10,203 ; 10,229 ; 10,133 ; 10,122  ; 10,448 ( Dalam Miliar Rupiah )

Namun, kenaikan yang signifikan juga terdapat pada akad Murabahah :

12,624  ; 16,553 ; 22,486  ; 26,321  ; 37,508  ; 40,877 ; 42,453 ; 44,118 ; 46,161  ; 47,453 ; 49,455 ; 49,883 52,148 ; 53,993 ; 56,365 ; 56,473 ; 58,326  ; 61,480 ( Dalam Miliar Rupiah )

Meskipun akad Mudharabah semakin menunjukkan tingkat kenaikan namun kenaikan Akad Murabahah juga ikut meningkat. Seharusnya persentase  Adad Mudharabah dan Musyarakah lebih tinggi lagi karena Akad ini sangat mencerminkan karakter perbankan Syariah .

Sumber :

[17] Ibid.

[18] Ibid., hlm. 97-98.

[19] Abdullah Saeed, Bank Islam…op.cit., hlm. 97-98.

http://www.bi.go.id/web/id/Statistik/Statistik+Perbankan/Statistik+Perbankan+Syariah/sps_0312.htm

http://www.republika.co.id/berita/syariah/keuangan/12/01/23/ly8iam-pembiayaan-bank-syariah-mulai-bergeser-ke-bagi-hasil

http://ayahaca.wordpress.com/2011/06/06/34/

*Please Take Out With Full Credit , Thank You^^*

Outlook Perbankan Syariah 2012

Rifki Ismal, Ascarya dan Ali Sakti

Perkembangan Terkini
Setelah mengalami perlambatan pertumbuhan akibat terimbas krisis Amerika Serikat tahun 2008/2009, pertumbuhan industri perbankan Syariah di Indonesia menunjukkan trend yang terus meningkat semakin pesat, dan pada akhir September 2011 pertumbuhan aset mencapai 47.8% (yoy) atau Rp123.4 trilliun, tertinggi sejak tahun 2005. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) dan pembiayaan yang diberikan (PYD) pada waktu yang sama bahkan lebih pesat lagi, masing-masing mencapai 53.0% (yoy) atau Rp97.8 trilliun dan 52.3% (yoy) atau Rp92.8 trilliun, dengan FDR (financing to deposits ratio) 95.7%. Sebagai perbandingan, pertumbuhan aset perbankan konvensional pada waktu yang sama mencapai 22.2% (yoy), atau Rp3371.5 trilliun, dengan LDR (loan to deposits ratio) 81.4%.

Kinerja perbankan Syariah dilihat dari BOPO (biaya operasi dibagi pendapatan operasi), ROA (return on assets) dan NPF (non-performing financing), juga menunjukkan peningkatan. Pada akhir September 2011, BOPO, ROA dan NPF masing-masing mencapai 77.5%, 1.8% dan 2.0%. Sementara itu, CAR (capital adecuacy ratio) berada pada posisi yang aman 15.3%, sedangkan ROE (return on equity) mengalami penurunan ke 17.1%. Kinerja perbankan Syariah tersebut lebih baik dari kinerja perbankan konvensional, kecuali untuk ROA dan ROE, karena masih pesatnya ekspansi.

Tantangan Kedepan
Krisis keuangan Amerika Serikat yang bermula dari krisis subprime mortgage pada tahun 2007 belum juga usai, masih menyisakan masalah fiskal yang berkepanjangan dan proses pemulihan yang berjalan lamban, sehingga IMF dalam World Economic Outlook September 2011 menurunkan prediksi pertumbuhan ekonominya untuk tahun 2011 dan 2012 masing-masing menjadi 1.5% dan 1.8%.

Sementara itu, beberapa negara Eropa, seperti Yunani, Portugis, Irlandia, Spanyol dan Italia, mulai mengalami krisis utang yang lebih sulit penyelesaiannya karena besarnya utang, banyaknya negara yang terlibat dan tidak disiplinnya pemerintah negara-negara euro-zone tersebut dalam menjalankan kewajibannya. IMF juga menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi kawasan Eropa untuk tahun 2011 dan 2012 masing-masing menjadi 1.6% dan 1.1%. Bahkan, menurut ADB Eropa dapat mengalami resesi di tahun 2012.

Ke dua krisis di kawasan Amerika Serikat dan Eropa tersebut akan mewarnai perkembangan ekonomi Global tahun 2012, termasuk Indonesia. pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2012 diperkirakan akan melambat karena melambatnya pertumbuhan ekspor yang akhirnya berdampak pada melambatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga. ADB-pun telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2012 dari 6.8% menjadi 6.5%, dan bahkan dapat turun lagi menjadi 5.5% apabila kawasan Amerika Serikat dan Eropa mengalami resesi mendalam.

Namun demikian, pemerintah Indonesia optimis pertumbuhan ekonomi tahun 2012 diperkirakan 6.7%, karena sedikitnya ada 4 hal yang mendukung, yaitu: 1) Pertumbuhan konsumsi domestik yang masih kuat; 2) Minat investor asing yang masih meningkat, termasuk pada sektor Industri, karena fundamental perekonomian yang kuat, iklim investasi yang membaik dan sovereign credit rating Indonesia yang telah berada pada posisi investment grade; 3) Upaya pemerintah untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur dengan MP3EI (Master plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia); dan 4) Penurunan inflasi yang memberikan ruang untuk penurunan suku bunga. Dua hal yang perlu diwaspadai yang dapat meningkatkan tekanan inflasi pada tahun 2012 dari sisi penawaran adalah kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak) dan TDL (tarif dasar listrik). Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2012 ini hanya dikalahkan oleh Cina (9.0%) dan India (7.5%).

Dampak Makro Ekonomi terhadap Perbankan Syariah
Krisis Amerika Serikat dan Eropa tentu saja akan berdampak langsung maupun tidak langsung ke perbankan Indonesia, dari sisi likuiditas, permodalan, aset dan perkreditan/pembiayaan, karena sistem keuangan Indonesia masih didominasi oleh perbankan. Namun demikian, dampak langsung karena adanya eksposur luar negeri yang hanya sekitar Rp100 triliun tidak besar karena hanya sekitar 3% dari aset perbankan nasional, diperkirakan akan relatif kecil sekali. Secara umum, kondisi perbankan nasional yang cukup kuat direfleksikan oleh tingginya rasio penggunaan dana nasabah dengan distribusi kredit ke sektor usaha produktif. Seperti yang telah disebutkan di atas LDR perbankan nasional mencapai lebih dari 81% dimana FDR perbankan syariah mencapai 95,7%.

Kondisi lain yang diperkirakan akan berpengaruh signifikan terhadap sektor perbankan nasional pada tahun mendatang adalah membaiknya posisi credit rating Indonesia yang saat ini telah berada pada posisi investment grade. Posisi ini didapat Indonesia dari international credit rating pada akhir tahun ini, meski dirasakan terlambat namun tetap saja kondisi ini monumental sekaligus fenomenal bagi Indonesia. Pada satu sisi, kini posisi credit rating Indonesia telah sejajar dengan negara maju dan yang lebih menggembirakan adalah ditengah kecenderungan krisis global dimana banyak negara maju yang harus mengalami penurunan credit rating, Indonesia mampu meningkatkan posisi daya-saingnya. Secara umum hal ini akan menambah kepercayaan investor asing terhadap sektor keuangan nasional khususnya industri perbankan. Posisi ini diperkirakan akan menurunkan biaya umum yang harus ditanggung oleh perbankan nasional termasuk perbankan syariah Indonesia.

Sementara itu, dampak langsung krisis Amerika Serikat dan Eropa ke perbankan Syariah sangat minim karena portfolio pembiayaan perbankan Syariah masih kecil (Rp92.8 triliun per September 2011) dan eksposur portfolio pembiayaan hampir semuanya berupa pembiayaan usaha di sektor riil domestik, hampir tidak ada eksposur pembiayaan usaha perdagangan luar negeri. Jikapun ada diperkirakan dampaknya tidak langsung (second round effect).

Proyeksi Pertumbuhan Perbankan Syariah 2012
Berdasarkan kondisi dan analisa lingkungan makro industri perbankan syariah nasional, dilakukan analisis proyeksi perbankan syariah nasional pada tahun 2012. Perhitungan proyeksinya menggunakan pendekatan analisis: (i) econometric approach (time series model) dengan historical series untuk menangkap pola behavior dan pattern perbankan syariah; (ii) forecasting time series model untuk memperkirakan pertumbuhan total asset. Perhitungan proyeksi tersebut berdasarkan tiga asumsi yaitu: (i) moderat dimana pertumbuhan in line dengan program pengembangan yang sedang dilakukan dan upaya-upaya yang dilakukan bank syariah, (ii) pesimis apabila asumsi skenario moderat tidak terealisasi dan, (iii) optimis apabila perkembangan yang terjadi lebih promising dari yang direncanakan.

Asumsi-asumsi tersebut secara detil antara lain sebagai berikut: (a) moderat: jumlah bank syariah tidak bertambah namun kinerjanya tetap meningkat, pola pembiayaan tetap didominasi trade based financing, target utama pembiayaan masih SMEs. Kondisi ekonomi domestik masih stabil dan mendukung kinerja sektor riil; (b) pesimis: kinerja bank syariah mengalami perlambatan karena dampak krisis global kepada perekonomian domestik, turunnya pembiayaan dan competitiveness bank syariah; (c) optimis: jumlah bank syariah bertambah, ekonomi domestik tidak terpengaruh oleh gejolak ekonomi global, kinerja sektor riil tetap positif dan bank syariah tetap competitif dengan bank konvensional.

Sementara itu teknis perhitungan yang dilakukan secara garis besarnya adalah sebagai berikut: (i) Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA) dengan historical data dari Desember 2000 sampai dengan Oktober 2011; (ii) proses modeling dilakukan untuk variabel total aset bank syariah dan bank nasional dengan tahapan-tahapan: identifikasi variable, estimasi model, evaluasi model dan forecasting model; forecasting model menghasilkan future values dari Oktober 2011 sampai dengan Desember 2012 karena tingkat akurasi model time series sangat tinggi dalam jangka pendek.

Berdasarkan perhitungan yang dilakukan menggunakan asumsi-asumsi tadi diperkirakan secara moderat perbankan syariah nasional akan tumbuh 36% pada tahun 2012. Namun jika ada kondisi yang tidak diharapkan terjadi seperti dampak krisis global ternyata lebih buruk dari yang diperkirakan, maka secara pesimis tahun depan pertumbuhan perbankan nasional diperkirakan sebesar 29%. Sementara itu, sebaliknya jika ternyata ada kondisi-kondisi yang lebih baik terjadi pada tahun depan seperti bertambahnya bank syariah dan kinerja ekonomi domestik yang menguat signifikan, tahu depan secara optimis perbankan syariah nasional akan tumbuh sebesar 45%.

Diluar perkembangan fisik, baik yang saat ini tengah berlangsung maupun nanti, diharapkan pada tahun-tahun mendatang perkembangan industri perbankan syariah nasional juga semakin memperlihatkan keberkahannya berupa kemanfaatan bagi masyarakat usaha mikro-kecil dan juga dhuafa. Oleh karena itu, mungkin sebaiknya diperkenalkan pula variabel atau angka perkembangan berupa derajat kemanfaatan ini sebagai parameter kemanfaatan perbankan syariah nasional bagi masyarakat yang selama ini tidak terjangkau oleh industri perbankan yang terbilang mapan. Perlu bantuan kontribusi pihak-pihak lain seperti para akademisi dalam merumuskan ukuran-ukuran tersebut, sekaligus mengawasi peran perbankan syariah nasional pada aspek-aspek khusus seperti itu. Semoga usaha-usaha pengembangan industri ini oleh pihak-pihak terkait, semakin dimudahkan oleh Allah SWT, sehingga perbankan syariah nasional mampu berperan signifikan dalam perkembangan perbankan nasional dan lebih luas lagi dalam mendukung perekonomian nasional.

 

Disadur murni dari:  http://abiaqsa.blogspot.com/2012/01/outlook-perbankan-syariah-2012.html

*Please Take Out With Full Credit , Thank You^^*

EMI : Uang Dalam Perspektif Ekonomi Islam

Nama               : Fennylia Pratiwi

NPM               : 20100730081

Mata Kuliah    : Ekonomi Makro Islam

Uang Dalam Perspektif Ekonomi Islam

  1. Konsep Uang Dalam Islam

Konsep uang memiliki makna yang berbeda dalam ekonomi Islam dan ekonomi konvensional. Dalam ekonomi konvensional uang seringkali  memiliki arti yang saling tertukar (bolak-balik) , yaitu  uang sebagai uang dan uang sebgai capital . Uang seringkali diidentikkan dengan modal, uang (modal) adalah private goods dan bersifat flow concept bagi Fisher dan Stock concept bagi kelompok Cambridge School. Sedangkan  dalam ekonomi Islam, sangat jelas bahwa uang adalah uang, uang bukan capital.  Uang tidak identik dengan modal , uang adalah public goods yang bersifat flow concept.

  1. Ekonomi Makro Dengan Uang

Menurut Al-Ghazali dan Ibn Khaldun, uang memiliki defenisi sebagai apa yang digunakan manusia sebgai standar ukuran nilai harga, media transaksi pertukaran , dan media simpanan.

  1. Uang sebagai ukuran harga

Abu Ubaid (w. 224 H) menyataka bahwa dirham dan dinar adalah nilai harga sesuatu, sedangkan segala sesuatu tidak bisa menjadi nilai harga keduanya. Nilai harga adalah ukuran yang dikenal untuk mengukur hartam maka wajib bersifat spesifik dan akurat, tidak meninggi (naik) dan tidak menurun.

  1. Uang sebagai media transaksi

Uang adalah alat media transaksi yang sah dan harus dapat diterima oleh siapa pun bila ia ditetapkan oleh negara. Tidak seperti  cek , kartu kredit ataupun kartu debit yang tidak dapat dengan mudah diterima oleh semua orang. Imam Namawi berkata , “Makruh bagi rakyat biasa mencetak sendiri dirham dan dinar. Sekalipun dari bahan yang murni,sebab pembuatan tersebut adalah wewenang pemerintah.  ”

  1. Uang sebagai media penyimpan nilai

Ibn Khaldun mengisyratkan uang sebagai alat simpanan. Beliau menyatakan, kemudian Allah Ta’ala menciptakan drari dua barang tambang, emas, dan perak, sebagai nilai untuk setiap harta. Dua jenis ini merupakan simpanan dan perolehan orang-orang di dunia kebanyakannya.

Berbagai Jenis uang dalam sejarah uang  Islam :

  1. Dinar dan Ain; mata uang terbuat dari emas cetakan.
  2. Dirham dan Wariq; mata uang terbuat dari perak cetakan.
  3. Dirham Magsyusah; mata uang terbuat dari  campuran perak dan metal lain.
  4. Fulus; mata uang terbuat dari tembaga
  1. Perubahan Fungsi Uang

Fungsi sebagai media pertukaran dapat digunakan dan diterima sebagai alat pembayaran, dimana sebelum ditemukan uang ataupun koin,masyarat menggunakan barang sebagai media transaksi pertukaran barang.

Tiga tahap perkembangan fungsi uang :

  1. Kelangkaan (Scarcity)

Supply dari medium of change terbatas, karena apabila tidak terbatas  maka tidak ada nilai dari pertukaran komoditi tersebut.

  1. Daya Tahan (durability)

Medium of Change harus memiliki daya tahan kuat karena hal ini berhubungan dengan fungsi ketiga dari uag secra konvensional.

  1. Nilai Tinggi

Sebagai Medium of Change haruslah mempunyai nilai tinggi sehingga tidak membutukan jumlah yang banya dalam melakukan transkasi

  1. Uang Dalam Fungsi Utilitas

Uang merupakan  fungsi utilitas yang langsung. Fungsi uang hanya sekedar  sebagai medium  dari barang  yang satu berubah  menjadi barag yang lain, tidak perlu double concident needs.

  1. Time Value of Money

Menghitung Pertumbuhan  populasi menggunakan persamaan :

Pt = Po(1+r)

Dan diadopsi kembali dalam ilmu finance sehingga memiliki persamaan  sebagai berikut :

FV = PV (1+r)

Namun uang bukanlah makhluk  hidup yang dapat berkembang biak dengan sendirinya seperti persamaan persamaan ditas.

  1. Economic Value of Time

Dalam pandangan Islam, bahwasanya agama Islam tidak mengenal time value money. Karena Time mempunyai economic value hanya jika waktu tersebut dimanfaatkan dengan menambah faktor produksi yang lain , sehingga menjadi capital dan dapat memperoleh return.

  1. Uang Sebagai  Flow Concept

Dalam Islam uang adalah flow concept dan capital adalah stock concept , diibaratkan seperti air, apabila air itu hanya mengendap (menimbun uang) akan kotor, seperti capital dan bersifat private goods, sedangkan dalam ekonomi Islam uang yang sehat adalah adalah bersifat Public Goods sehingga seperti air yang dialirkan. Saving harus dinvestasikan ke sektor rill. Apabila tidak, maka saving bukan saja tidak mendapat return, tetapi juaga dikenakan zakat.

  1. Uang Sebagai Public Goods

Public Goods adalah barang tersebut dapat digunakan oleh masyarakat tanpa menghalangi orang lain untuk menggunakannya. Sebagai public goods, uang dimanfaatkan lebih banyak oleh masyarakat kaya, dimana uang tersebu digunakan di sektor produksi,sehingga memberikan peluang yang lebih besar kepada orang-orang  untuk memperoleh lebih banyak uang. Oleh karena itu penimbunan (hoarding) dilarang karena menghalangi yang lain menggunakan public goods tersebut.

Tugas Resume Ekonomi Makro Islam Bab 4 : Uang Dalam Perspektif Ekonomi Islam ,

Buku Ekonomi Makro Islam. Ir. Adiwarman A. Karim, S.E.,M.B.A.,M.A.E.P

Festival Ekonomi Syariah

Festival Ekonomi Syariah

Alhamdulillah, Akhirnya… Acara yang paling ditunggu Seminar Nasional Festival Ekonomi Syariah datang juga ! ^^ Seminar ini dilaksanakan pada hari Sabtu,  tanggal 12 Mei 20121 di Convention hall RSGMP AMC (Asri Medical Centre) Yogyakarta,

Festival Ekonomi syariah diselenggarakan oleh HMJ Ekonomi dan Perbankan Islam, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (HMJ EPI UMY) . Seminar Nasional dengan tema “Pemberdayaan Ekonomi Untuk Siapa?”, seminar ini sebagai acara puncak Festival Ekonomi Syariah yang telah dilaksanakan dari tanggal 10,11,12 mei 2012. Selain Seminar acara ini diisi rangkaian lomba Debat, Ranking 1, Essai, dan Stand Up Comedy. Yang di ikuti oleh mahasiswa UMY dan beberapa mahasiswa dari universitas lain di luar Yogyakarta seperti UIN Malang, UNAIR, STEI SEBI Jakarta, STAIN Purwokerto, STIKES ALMA ATA, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, STEI HAMFARA, STEI Yogyakarta, dan UII

Seminar Nasional dihadiri oleh Riyadi Ida Bagus Salyo Subali, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop dan UKM) sebagai perwakilan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Hadir pula dalam acara seminar ini Mantan Bupati Bantul Drs. HM. Idham Samawi,  Perwakilan Direktorat Perbankan Syari’ah Bank Indonesia Dr. Rifki Ismal, Dosen Fakultas Agama Islam UMY Hilman Lathief, MA.PhD serta beberapa ekonom seperti H.M. Imasastra Mihajad, Lc, PDIBF, MscFin, PhD.c dan Muhammad Edhie Purnawan MA.PhD,  sebagai pembicara seminar.

Perwakilan Sri Sultan Hamengku Buwono X, Riyadi Ida Bagus Salyo Subali mengatakan, krisis ekonomi di dunia yang menyebabkan timbulnya kemiskinan dapat dicegah dengan satu hal. Dan salah satu yang diyakini sebagai solusi adalah sistem perekonomian Islam.

Sementara Idham Samawi sebagai pembicara dalam seminar nasional ini mengajak para mahasiswa khususnya untuk menjadi seorang pemimpin yang amanah dan benar yang selalu berpihak pada rakyatnya yang tertindas, teraniaya, dan termarginalkan. “Harapan saya bagi para calon pemimpin ini, adalah bagaimana cara kalian untuk memahami esensi merdeka dan apa yang akan kalian lakukan ketika menjadi pemimpin?” tutur Idham.

Mufti, selaku ketua panitia penyelenggara acara Festival Ekonomi Syari’ah yang ditemui saat acara menyatakan harapannya untuk perkembangan ekonomi Indonesia ke depan, “kami ingin menyamakan visi dan misi dengan para ekonom-ekonom Rabbani Indonesia, sehingga kami mempunyai satu tujuan yang sama bagaimana membentuk perekonomian Indonesia yang maju dan sejahtera,” katanya.

“Hal itu juga bergantung pada kita sebagai orang-orang yang menegakkan ekonomi khususnya ekonomi Islam” jelas Mufti. (Sakinah & Feny )

 

Hawalah

Makalah Fiqh Muamalah II

HAWALAH

Dosen Pengampu           : Homaidi Hamid, S. Ag,, M. Ag

Pemakalah                        : Fennylia Pratiwi & Sugi Sundari

Prodi                                   : Ekonomi Dan Perbankan Islam

Fakultas                             : Agama Islam

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

  1. A.   Pengertian Hawalah

Kata hawalah diambil dari kata tahwil yang berarti intiqal (Perpindahan). Menurut bahasa, hawalah adalah memindahkan atau berpindah. Sementara menurut istilah, hawalah adalah akad yang menghendaki pemindahan utang dari tanggungan seseorang kepada tanggungan orang lain1atau pengalihan hutang dari orang yang berhutang kepada orang lain yang wajib menanggungnya. Dalam istilah Islam merupakan pemindahan beban hutang dari muhil (orang yang berhutang) menjadi tanggungan muhal ‘alaih  atau orang yang berkewajiban membayar hutang.2

 

  1. B.   Dasar Hukum Hawalah
    1. 1.      Landasan Syariah

Syariat dan kebolehan hiwalah berlandaskan pada hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim. Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. Bersabda,

مَطلُ الغَنِيِّ ظٌلمٌ , فَـإ ذاأًتبع أحدكم على ملىّ فليتّبع

Menunda pembayaran bagi orang yang mampu adalah kezaliman. Dan jika salah seorang kamu diikutkan (dihiwalahkan) kepada orang yang kaya yang mampu,m maka turutlah. ”

 

Selanjutnya, Imam Ahmad, “seseorang yang utangnya dipindahkan kepada orang kaya, hendaklah ia menerimanya”

Atas dasar hadis itu, seseorang yang memiliki piutang dari orang lain, kemudian orang yang berutang kepadanya memindahkan utangnya kepada orang lain, pemilik piutang dianjutkan untuk menerima pemindahan (hawalah) ini, tetapi tidak sampai diwajibkan. Dalam anjuran ini, dipertimbangkan agar orang yang diserahi utang adalah orang yang memiliki harta untuk melunasi utang kepada muhal.

1 Dr. Musthafa Dib Al – Bugha, Buku Pintar Transaksi Syariah, halm 179

2 Abdul Ghofur Anshori, Perbankan Syariah di Indonesia, halm 153

Dipersyaratkan pula tidak ada syubhat (ketidakjelasan) pada hartanya. Jika ia tidak memiliki harta untuk melunasi utang yang dipindahkan padanya atau terdapat syubhat pada hartanya, tidak dianjurkan bagi muhal untuk menerima pemindahan utang tersebut.3

 

  1. 2.      Landasan Hukum Positif

Hiwalah sebagai salah satu produk perbankan syariah di bidang jasa telah mendapatkan dasar hukum dalam UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Dengan diundangkannya UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, hiwalah mendapatkan dasar hukum yang lebih kokoh. Dalam Pasal 19 UU Perbankan Syariah disebutkan bahwa kegiatan usaha Bank Umum Syariah antara lain meliputi melakukan pengambilalihan utang berdasarkan Akad Hiwalah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah.

Produk jasa perbankan syariah berdasarkan akad hiwalah secara teknis mendasarkan pada PBI No. 9/19/PBI/2007 tentang Pelaksanaan Prinsip Syariah Dalam Kegiatan Penghimpunan Dana dan Penyaluran Dana serta Pelayanan Jasa Bank Syariah., sebagaimana yang telah diubah dengan PBI No. 10/16/PBI/2008. Pasal 3 PBI dimaksud menyebutkan Pemenuhan Prinsip Syariah sebagaimana dimaksud, antara lain dilakukan melalui kegiatan pelayanan jasa dengan memeprgunakan antara lain Akad kafalah, hawalah,dan  sharf.4

 

  1. C.    Rukun dan Syarat Hawalah
    1. 1.      Muhil

Muhiladalah orang yang berutang (debitor) yang memindahkan utangnya kepada orang lain.Muhil haruslah orang yang mampu berakad, yaitu orang yang sudah akil baligh dan berakal sehat.Hawalah tidak sah jika berasal dari orang gila atau anak kecil yang belum bisa berpikir.

Mazhab hanafiah memperbolehkan hawalah yang dilakukan oleh anak kecil yang sudah bisa berpikir jika diizinkan oleh walinya atau jika akad tersebut karena hal yang sudah terjadi sebelumnya.

3 Dr. Musthafa Dib Al – Bugha, Buku Pintar Transaksi Syariah, halm 180

4 Abdul Ghofur Anshori, Perbankan Syariah di Indonesia, halm 160

  1. 2.      Muhal

Muhal adalah pemberi jaminan (kreditor) yang utangnya dipindahkan untuk dilunasi oleh orang lain yang bukan peminjamnya atau orang yang memberi pinjaman kepada muhil yang memindahkan utangnya untuk dilunasi oleh orang lain.

  1. 3.      Muhal ‘Alaih

Muhal ‘alaih adalah orang yang harus melunasi utang kepada muhal. Muhal ‘alaih harus orang yang sudah akil-baligh. Mazhab Syari’iah dan Hanafiah sepakat tentang hal ini. Hawalah tidak sah jika dilakukan oleh orang gila dan anak kecil, karena kewajiban melunasi utang merupakan baigan dari tabarru’ sedangkan orang yang belum baligh tidak sah ber-tabarru’.

  1. 4.      Muhal Bih

Muhal bih adalah hak muhal yang harus di lunasi oleh muhil, namun kewajiban (untuk melunasi) hak itu, kemudian dialihkan oleh muhil kepada muhal ‘alaih. Syarat muhal bih antara lain adalah berupa utang dan utang tersebut bersifat tetap. Hawalah tidak sah jika dalam bentuk benda-benda berwujud karena hawalah merupakan pengalihan hukum sementara pengalihan benda-benda berwujud merupakan pengalihan hakiki.

  1. Shighat (Ijab dan Qabul)

Ijab adalah ucapan muhil. Misalnya, “Saya alihkan kepadamu kewajiban (untuk membayar utang) kepada si fulan”. Qabul adalah ucapan muhal misalnya “Saya terima” atau “Saya ridha”. Ijab dan Qabul harus dilakukan di tempat akad.

Imam Abu Yusuf, salah seorang ulama Mazhab Hanafiah berpendapat bahwa sekalipun muhal tidak ada ditempat akad hawalah, tetapi ia menerima kabar tersebut, lalu ia menerimanya, akad hawalah telah sah. Ia menganggap bahwa kesamaan tempat akad alaha syarat pelaksanaan, bukan syarat sahnya akad. Namun pendpat yang benar adalah bahwa kesamaan tempaat akad merupakan syarat sahnya akad. Oleh karena itu, hawalah tidak sah jika tidak ada qabul di tempat ijab.

  1. 6.      Khiyar Syarat dan Khiyar Majlis

Khiyar syarat pada asalnya ditetapkan dalam semua akad untuk menjaga kedua pihak yang bertransaksi dari penipuan. Sebaliknya akad hawalah tidak dibangun diatas prinsip tipu menipu. Akad ini adalah akad yang prinsipnya dilakukan untuk saling menolong.

Khiyar majlis ditetapkan pada jual-beli barang. Sedangkan hawlah adalah jual-beli utang dengan utang. Sekalipun akad ini termasuk akad mu’awadhat (transaksi), ia tidak sepenuhnya dibangun di atas prinsip – prinsip transaksi.

akad hawalah pun termasuk ke dalam akad pembebasan (ibra’). Oleh karena itu, akad ini mengikuti prinsip-prinsip pembebasan. Dengan demikian akad ini tidak sah menggunakan kalimat jual-beli dan tidak perlu diberlakukan khiyar majlis.5

      Syarat  Hawalah

  1. 1.      Syarat Umum Hawalah
  2. Pernyataanijabdanqabulharusdinyatakanolehparapihakuntukmenunjukkankehendakmerekadalammengadakankontrak (akad).
  3. Akad dituangkan secara tertulis,  melalui korespondensi,  atau menggunakan cara-cara komunikasi modern.
  4. Hawalah dilakukan harus dengan persetujuan muhil, muhal/muhtal, dan muhal ‘alaih.
  5. Kedudukan dan kewajiban para pihak harus dinyatakan dalam akadsecara tegas.
  6. Jika transaksi hawalah telah dilakukan, pihak-pihak yang terlibat hanyalah muhal dan muhal alaih;  dan hak penagihan muhal berpindah kepada muhal ‘alaih.
  7. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan  di  antara para pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi  Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.6

 

  1. 2.      Syarat Sah Hawalah
  2. Adanya Kerelaan dari  pihak Muhil dan Muhal ‘alaih.

Karena pada dasarnya Muhil adalah orang yang memiliki kewajiban membayar hutang dari arah mana saja yang sesuai dengan keinginannya dan Muhal mempunyai

5 Dr. Musthafa Dib Al – Bugha, Buku Pintar Transaksi Syariah, Halm 181 – 184

6 Fatwa Dewan Syariah Nasional, No : 12/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Hawalah

hutang dari arah mana saja yang sesuai dengan keinginannya dan Muhal mempunyai hak yang ada pada tanggungan muhil, maka tidak mungkin terjadi perpindahan kewajiban tanpa ada kerelaan.

  1. Stabilnya jumlah hutang.
  2. Samanya kedua hal, baik jenis maupun kadarnya,penyelesaian tempo waktu, mutu baik dan buruk. Karena hawalah tidak akan sah apabila  hutang berbentuk emas dan di hiwalahkan agar ia mengambil perak sebagai penggantinya. Demikian pula,sekiranya hutang itu sekarang dan dihiwalahkan untuk dibayar kemudian (ditangguhkan) atau sebaliknya. Dan tidak sah pula hiwalah yang mutu baik dan buruknya berbeda atau salah satunya lebih banyak.7
  3. D.    Macam- Macam Hawalah

Menurut Mazhab Syafi’iah, hawalah hanya satu macam, seperti yang telah dijelaskan diatas beserta syarat-syarat dan ketentuan-ketentuannya. Ini merupakan jenis hawalah yang dibolehkan berdasarkan kesepakatan para ulama.

Mazhab Hanafiah membolehkan dua macam hawalah,8

  1. Hawalah terikat (Muqayyad)

Seseorang memindahkan utang dan mengaitkan dengan piutang yang ada padanya. Inilah hiwalah yang boleh (jaiz) berdasarkan kesepakatan para ulama

  1. Hawalah tidak terikat (Mutlaqah)

Seseorang memindahkan hutangnya kepada orang lain dan tidak mengaitkan dengan hutang yang ada pada orang itu. Menurut ketiga mazhab lain kalau muhal ‘alaih tidak punya hutang kapada muhil, maka hal ini sama dengan kafalah, dan ini harus dengan keridhaan tiga pihak.

Kemudian apabila dikaitkan dengan Hukum Lembaga Pembiayaan akad Hiwalah dipakai dalam factoring atau anjak piutang. Anjak piutang adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk pembelian piutang dagang jangka pendek suatu perusahaan berikut pengurusan atas piutang tersebut.

7Sayyid Sabbiq, Fiqh Sunnah – 13,halm 40-41

8Dr. Musthafa Dib Al – Bugha, Buku Pintar Transaksi Syariah, halm 187

 

Dalam mengaplikasikan akad hiwalah pada produk perbankan syariah ini paling tidak terdapat tiga pihak diantaranya diikat dengan perjanjian. Ketiga pihak tersebut, yaitu bank sebagai faktor (muhal ‘alaih) nasabah selaku klien (muhil), dan pihak yang mempunyai hutang kepada nasabah (customer).9

Perbedaan Hiwalah Terikat (Muqayyad) dan Hiwalah Tidak Terikat (Mutlaq) :

  1. 1.      Tuntutan pembayaran utang kepada muhal ‘alaih

Jika muhil memiliki harta yang dipinjam oleh muhal ‘alaih dan mengikat muhal dengan utang tersebut dalam hawalah, hak muhil untuk menagih utang kepada muhal ‘alaih gugur. Hal ini dikerenakan, ia telah mengikat hawalah dengan utang tersebut dan mengaikannya dengan hak muhal. Dengan demikian, utan gyang ada di tangan muhal ‘alaih statusnya berubah menjadi semacam barang gadai sekalipun bukan. Jika muhal ‘alaih melunasi utang kepada muhal, telah terjadi muqashshah (kliring) antara utang muhil dan utang muhal ‘alaih. Setelah itu tidak ada lagi tagih menagih utang.

Jika muhil mengalihkan tanggung jawab kepada muhal ‘alaih tanpa mengikat hawalah dengan utang yang ia pinjamkan kepada muhal ‘alaih, dalam kasus ini muhal ‘alaih dituntut melunasi dua utang, yaitu utang hawalah yang merupakan hak muhal untuk menagihnya dan utang asalnya kepada muhil yang berhak ditagih oleh muhil. Muhil tidak mengikat utang hawalah dengan utang muhal ‘alaih kepadanya. Dengan demikian, tidak terjadi kliring antara utangnya dan utang hawalah. Oleh kerena itu, muhil dan muhal berhak menagih piutang masing-masing.

  1. 2.      Terbebasnya Muhal ‘alaih dari Kewajiban Membayar Utang

Jika hawalah terikat dan sudah jelas muhal ‘alaih terbebas dari kewajibannya membayar utang (kepada muhil) yang telah diikat dengan hwalah, misalnya utang (muhal ‘alaih) berupa harga dari suatu barang, tetapi barangnya tidak ada maka hawalah tersebut batal. Kateiak ia mengikat hawalah dengan tuang yang dikaitkaan dengan barang itu, jika sudah jelsa bahwa tidak ada utang disana, jelas pula tidak ada hawalah.

Jika hawalahnya tidak terikat, lalu tampak bahwa muhal ‘alaih terbebas dari utangnya kepada muhil, akad hawalah tidak batal. Utang hawalah tidak berkaitan dengan utang yang berada dalam tanggungan muhal ‘alaih yang diikat pada sesuatu.

9Abdul Ghofur Anshori, Perbankan Syariah di Indonesia, halm 153-154

Ia hanya berkaitan dengan tanggungan muhal ‘alaih. Dengan demikian, tidak terdapatnya utang dalam tanggungan muhal ‘alaih tidak mengharuskan tidak adanya akad hawalah. Oleh karena itu, akad hawalah tetap sah.

  1. Meninggalnya muhil sebelum melunasi utangnya

Jika hawalah bersifat terikat, muhal dan orang-orang yang berpiutang lainnnya boleh sama-sama mengambil harta milik muhil yang berada dalam tanggungan muhal ‘alaih. Masaing-masing berhak mengambil sesuai dengan harta yang dipinjamkan kepada muhil sebab hak muhal berkaitang dengan utang. Begitu juga dengn hak orang-orang yang berpiutan glinnya. Oleh karena itu, tidak ada yang lebih berhak atas yang lain.

Jika hawalah bersifat mutlak, muhal tidak berbagi dengan orang-orang yang berpiutang lainnya dalam mengambil utang muhil yang berada dalam tanggungan muhal ‘alaih. Hak muhal tidak berkaitan dengan utang tersebut kerena akad hawalah tidak diikat dengannya. Hanya saja, hak muhal berada dalam tanggungan muhal ‘alaih sehingga ia dapat menagih utang tersebut kepadanya. Akan tetapi, semua harta muhil yang berada dalam tanggungan muhal ‘alaih menjadi hak orang lain yang berpiutang kepada muhil, selain muhal. Oleh karena iu , muhal tidak ikut dalam pembagian harta milik muhil.10

  1. E.     ImplementasiAkadHiwalahPada Bank Syariah

Dalam praktik bisnis yang dilaksanakan, hawalah muqayyadah (pemindahan hutang atas hutang yang dimiliki sebagai gantinya) merupakan akad pemindahan hutang yang yang dibolehkan karena kejelasannya dan risiko yang dapat dipagari.

Teknis Perbankan :

  1. Dalam praktek perbankan syariah fasilitas hawalah lazimnya untuk membantu supplier mendapatkan modal tunai agar dapat melanjutkan usahanya. Bank mendapat ganti biaya atas jasa pemindahan hutang.
  2. Untuk mengantisipasi risiko kerugian yang akan timbul, bank perlu melakukan penelitian atas kemampuan pihak yang berhutang dan kebenaran transaksi antara yang memindahkan piutang dengan yang berhutang.
  3. Karena kebutuhan supplier akan likuiditas maka ia meminta bank untuk mengambil alih piutang. Bank akan menerima pembayaran dari pemilik proyek.11

10Dr. Musthafa Dib Al – Bugha, Buku Pintar Transaksi Syariah, halm 188-190

11Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah: Deskripsi dan Ilustrasi, halm 79

Akad hawalah di Perbankan Syariah dipraktikan dalam beberapa produk sebagai berikut :

  1. Factoring atau anjak piutang, yang mana para nasaah yang memiliki piutang kepada pihak ketiga memindahkan piutang itu kepada bank, bank lalu membayar piutang tersebut dan bank menagihnya dari pihak ketiga itu
  2. Post-dated check, yang mana bank bertindak sebagai juru tagih, tanpa membayarkan dulu piutang tersebut.
  3. Bill Discounting,  yang mana secara prinsip bill discounting serupa dengan hiwalah. Hanya saja dalam hal ini, nasabah harus membayar fee, sedangkan pembahasan fee tidak didapati dalam kontrak hiwalah.

Adapun manfaat atau keuntungan yang diperoleh jika kita memakai mekanisme hawalah adalah sebagai berikut :

  1. Memungkinkan penyelesaian hutang dan piutang dengan cepat dan stimultan
  2. Tersedianya talangan dana untuk dana hibah yang membutuhkan
  3. Dapat menjadi salah satu fee-based income atau sumber pendapatan non pembiayaan bagi bank syariah
  4. Bagi pihak nasabah selaku klien dari bank akan mendapatkan instant cash sehingga dapat meningkatkan cash flow perusahaannya.

Dalam akad hawalah terdapat risiko yang harus diwaspadai oleh pihak bank syariah dari sebuah kontrak hiwalah adalah adanya kecurangan nasabah dengan memberi invoice palsu atau wanprestasi (ingkar janji) untuk memenuhi kewajiban hiwalah kepada bank.

Teknis penerapan akad hiwalah sebagai produk perbankan syaraih di bidang jasa dapat berpedoman pada SEBI No. 10/14/DPbS tanggal 17 Maret 2008. SEBI ini memberikan ketentuan bagi hiwalah mutlaqah maupun hiwalah muqayyadah. Dalam pelaksanaan jasa dalam bentuk pemberian jasa pengalihan utang atas dasar akad Hiwalah Mutlaqah berlaku persyaratan paling kurang sebagai berikut :

  1. Bank bertindak sebagai pihak yang menerima pengalihan utang atas utang nasabah kepada pihak ktiga
  2. Bank wajib menjelaskan kepada nasabah mengenai karakteristik pemberian jasa pengalihan utang atas dasar akad hiwalah, serta hak dan kewajiban nasabah sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai transparansi informasi produk Bank dan penggunaan data pribadi nasabah
  3. Bank wajib melakukan analisis atas rencana pemberian jasa pengaliah utang atas dasar akad hiwalah bagi nasabah yang antara lain meliputi aspek perseonal berupa analisa atas karakter dan aspek usaha antara lain meliputi analisa kapasitas usaha (capacity), keuangan (capital), dan prospek usaha (condition).
  4. Bank dan nasabah wajib menuangkan kesepakatan dalam bentuk perjanjian tertuliis berupa akad pengalihan utang atas dasar hiwalah
  5. Nilai pengalihan utang harus sebesar nilai nominal
  6. Bank menyediakan dana talangan (Qardh) sebesar nilai pengalihan utang nasabah kepada pihak ketiga
  7. Bank dapat meminta imbalan (ujrah) atau fee dalam batas kewajaran kepada nasabah
  8. Bank dapat mengenakan biaya administrasi dalam batas kewajaran kepada nasabah.

Kemudian dalam kegiatan pelayanan jasa dalam bentuk akad Hiwalah Muqayyadah berlaku persyaratan paling kurang sebagai berikut :

  1. Ketentuan kegiatan penyaluran dana dalam bentuk pemberian jasa pengalihan utang atas dasar akad hiwalah mutlaqah sebagaimana dimaksud pada angka 2 kecuali huruf a, f, dan g.
  2. Bank bertindak sebagai pihak yang menerima pengalihan utang atas utang nasabah kepada pihak ketiga, dimana sebelumnya bank memiliki utang kepada nasabah
  3. Jumlah utang nasabah kepada pihak ketiga yang bisa diambil alih oleh bank, paling besar sebanyak nilai utang bank kepada nasabah.12
  1. F.      Berakhirnya Hawalah

Pertama, pendapat  Mazhab Syafi’iah. Konsekuensi hukum hawalah adalah berpindahnya kewajiban (membayar utang) dari muhil kepada muhal ‘alaih dalam bentuk lepasnya tanggung jawab muhi luntuk membayar utang. Pada saat itu juga, akad hiwalah berakhir. Tidak ada hubungan apapun lagi antara muhil dan muhal. Yang tersisa hanyalah hubungan antara muhal dengan muhal ‘alaih. Muhal pun tidak berhak lagi untuk menagih kepada muhil, bahkan sekalipun muhal ‘alaih tidak membayar padanya karena suatu sebab. Misalnya, muhal ‘alaih bangkrut ataumengingkariutangtersebut.

12 Abdul Ghofur Anshori, Perbankan Syariah di Indonesia, halm 155-158

Hal tersebut disebabkan kewajiban (membayar utang) sudah berpindah dengan akad hawalah dari tempatnya yang pertama ke tempat yang lain. Sesuatu yang sudah berpindah dari tempatnya tidak akan kembali ke tempat semula, kecuali dengan akad perpindahan yang baru lagi.

Kedua, pendapat Mazhab Hanafiah. Jika muhal sulit memperoleh pembayaran dari muhal ‘alaih karena sebab yang jelas, ia berhak kembali menagih utang tersebut kepada muhil. Dengan demikian, akad hawalah berakhir. Menurut Abu Hanifah, sebab-sebab tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Muhal ‘alaih meninggal dalam keadaan bangkrut
  2. Muhal ‘alaih mengingkari akad hawalah sampai berani bersumpah akan hal itu. Ditambah lagi, muhal dan muil tidak memiliki bukti tentang adanya akad hawalah tersebut
  3. Pengikut Abu Hanifah menambahkan sebab yang ketiga, yaitu hakim memutuskan bahwa muhal ‘alaih bankrut pada masa hidupnya

Dalil mereka mengenai hal ini adalah bahwa muhal sudah tidak akan mungkin memperoleh haknya dari muhal ‘alaih dalam situasi semacam ini. Tambahan lagi, terbebasnya muhil dari kewajiban membayar utang terikat dengan terpeliharanya hal muhal. Inilah tujuan hawalah, jika hak muhal tidak aman, muhil tidak terbebas dari tanggung jawab atas utangnya. Oleh kerena itu, muhal pun berhak menagih utangnya kembali kepada muhil. Jika muhal kembali menagih muhil, akad hawalah berakhir.

Ketiga, Mazhab Hanafiah, hawalah berakhir dengan pembatalan. Hawalah adalah akad yang memiliki unsur transaksional. Dengan demikian, akad ini bisa dibatalkan. Pembatalan dapat terjadi dengan ruju’nya (menarik kembali) muhil dari ijbanya atau ruju’nya muhal atau muhal ‘alaih dari qabulnya atas hawalah dan terjadi sebelum muhal ‘alaih melakukan pembayaran utang. Pengertian pembatalan adalah mengakhiri akad sebelum tujuan akad tersebut tercapai. Ketika hawalah batal, tagihan kembali kepada muhil, sebaliknya menurut Mazhab Syafi’iah, akad hawalah adalah akad yang mengikat kedua belah pihak. Oleh karena itu, pembatalan setelah akad sah tidak dapat diterima.

Keempat, menurut ulama Mazhab Hanafiah, hawalah juga berakhir jika sifatnya terikat dan muhil meninggal sebelum muhal menerima pembayaran utangnya dari muhal ‘alaih. Harta yang terikat dengan akad hawalah tersebut termasuk peninggalan muhil. Menurut mereka, muhal bisa kemali kepada ahli warisnya dan menuntut pembayaran utang yang menjadi tanggung jawab muhil kepada mereka.

Kelima, hawalah juga berakhir dengan berakhirnya hukum hawalah itu sendiri, yakni pelunasan utang dari muhal ‘alaih kepada muhal, baik hakikat maupun hukumnya. Secara hakikat, hawalah berakhir apabila muhal ‘alaih melunasi utang yang dialihkan kepadanya. Adapun secara hukum, hawalah berakhir jika :

  • Muhal meninggal dunia dan muhal ‘alaih merupakan ahli warisnya
  • Muhal menghibahkan utang tersebut atau menyedekahkannya kepada muhal ‘alaih dan ia menerimanya
  • Muhal membebaskan muhal ‘alaih dari kewajibannya membayar utang

Ini adalah bentuk – bentuk pelunasan utang secara hukum. Pada kasus ini, hukum hawalah berakhir, seperti pada pelunasan sesungguhnya.13

 

 

13Dr. Musthafa Dib Al – Bugha, Buku Pintar Transaksi Syariah, halm 193-196

DAFTAR PUSTAKA

 

–         Dib Al – Bugha, Musthafa, (2003), Buku Pintar Transaksi Syariah, Hikmah, Bandung.

–         GhofurAnsori, Abdul, (2009), PerbankanSyariah di Indonesia, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

–         Sabiq, Sayyid,( 1987), Fiqh Sunnah -13, PT. Alma’arif, Bandung.

–         Sudarsono, Heri, (2008), Bank dan Lembaga Keuangan Syariah : Deskripsi dan Ilustrasi,EKONISIA, Yogyakarta.

–         Fatwa Dewan Syariah Nasional , No : 12/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Hawalah

*Please Take Out With Full Credit , Thank You^^*

Strategi Sukses Bank Islam Untuk Menarik Pelanggan Muslim

Nama               : Fennylia Pratiwi

NPM                 : 20100730081

Mata Kuliah   : Manajemen Pemasaran Bank Syariah-A

Strategi  Sukses Bank Islam Untuk Menarik Pelanggan Muslim

Sultan Choudhury, direktur penjualan di Islamic Bank of Britain (IBB), membahas berbagai macam strategi yang tersedia. Choudhury memiliki lebih dari 13 tahun pengalaman dalam layanan profesional dan keuangan. Pada tahun 2004, ia mendirikan kantor pusat departemen operasi di IBB dan dia saat ini bertanggung jawab untuk saluran distribusi bank untuk penjualan dan jasa (keduanya cabang dan langsung) selain fungsi pengembangan usaha.

Kuliah tersebut dipimpin oleh Mansur Mannan, wakil presiden untuk keuangan Islam global di Credit Suisse di London dan sebelumnya juga dengan IBB.

 

Gerakan perbankan modern Islam telah tumbuh secara signifikan selama 40 tahun terakhir dan sangat mapan di Inggris, terutama di London, karena beberapa alasan. Sejak awal 1880-an London Metal Exchange telah digunakan oleh lembaga-lembaga Islam Timur Tengah keuangan untuk memanfaatkan kelebihan likuiditas mereka, ada sekitar dua juta Muslim di Inggris dengan keinginan tulus di antara mereka untuk menggunakan fasilitas perbankan yang sesuai dengan iman mereka; Inggris hukum dan akuntansi perusahaan memainkan peran kunci dalam transaksi keuangan Islam global, dan, akhirnya, pemerintah Inggris telah berkomitmen untuk memerangi pengecualian keuangan dan memperkuat posisi London sebagai pusat keuangan terkemuka di bidang keuangan Islam. Hal ini akan menyebabkan arus masuk modal dan bantuan dalam mengembangkan hubungan dagang dengan negara-negara Islam.

Saat ini ada dua sepenuhnya syariah-compliant bank-bank Islam di UK: IBB dan Bank Investasi Eropa Islam, yang mencakup ritel dan pasar grosir masing-masing. Ada beberapa pemain lain juga – HSBC Amanah, Lloyds TSB, Alburaq (anak perusahaan Arab Banking Corporation), Ahli United Bank, dan United National Bank. Aplikasi lebih lanjut untuk lisensi ini dengan FSA. Ada sejumlah relatif kecil dari pemain utama dalam perbankan ritel Inggris dan syariah-compliant perbankan menempati ceruk dalam ini. Choudhury menunjuk empat faktor kunci yang mempengaruhi nasabah perbankan: kualitas pelayanan, merek, biaya dan produk / jasa yang ditawarkan. Sementara masing-masing adalah penting, bank harus fokus pada satu atau dua. IBB telah memilih untuk fokus pada merek dan produk / jasa. Ini telah memperluas portofolio produk jauh dan telah menempatkan banyak usaha dalam mempromosikan IBB merek melalui saluran pemasaran langsung dan tidak langsung. Mereka berusaha untuk membedakan dirinya dari pemain lain.

 

IBB adalah bank baru (dua setengah tahun) dan cukup kecil dibandingkan dengan bank-bank Inggris lainnya ritel. Hal ini membawa keuntungan: struktur organisasi yang sederhana, sebuah kesempatan untuk membuat manfaat besar dalam jangka panjang dengan memanfaatkan peran perintis; fleksibilitas; lebih mudah untuk menerapkan skema reward dan staf untuk fokus pada pelanggan dalam membangun produk dan layanan, dan menawarkan harga yang kompetitif dan istilah yang sederhana dan kondisi untuk pelanggan. Bukti awal dari keberhasilan model bisnis ini dapat dilihat.

 

Ada kelemahan juga: investasi yang signifikan diperlukan; kurangnya kesadaran tentang merek dan biaya pemasaran tinggi untuk mempromosikannya; peraturan yang luas (butuh IBB hampir dua tahun untuk menyelesaikan persetujuan lisensi dari FSA karena ada preseden tidak), kebutuhan untuk menghindari penyalinan produk perbankan konvensional dan teknik karena takut mengurangi nilai dari merek; waktu untuk menjadi menguntungkan, dan risiko kegagalan dari model bisnis. Pasar potensial IBB adalah budaya yang beragam, ada kekurangan data intelijen pasar dan ada persaingan dari pemain utama. Karena itu tidak mudah untuk memiliki strategi pemasaran tunggal. Memang, dari mulut ke mulut terbukti menjadi cara yang paling ampuh untuk menarik pelanggan baru.

 

Produk inovasi, manajemen hubungan yang baik, segmentasi yang efektif dan terlatih personil adalah penting untuk keberhasilan bank. Untuk memastikan kepatuhan syariah produk, baik Syariah lokal dan internasional ahli sangat di papan dan IBB mempertahankan dialog dengan masyarakat pada tingkat yang berbeda. Choudhury menyimpulkan dengan mengatakan bahwa IBB merek didasarkan pada kepatuhan syari’ah penuh sementara menjadi bank Inggris diatur oleh FSA. Identitas perusahaan dipromosikan meskipun semua saluran pemasaran dan ada rencana untuk ekspansi Uni Eropa di masa depan juga.

 

http://www.newhorizon-islamicbanking.com/index.cfm?section=lectures&action=view&id=10506

 

*Please Take Out With Full Credit , Thank You^^*

 


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.